Rabu, 01 Agustus 2012

Laporan pengenalan hama pangan dan hortikultura


I.  PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
         Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan manusia akan bahan pangan dan hortikultura, maka pertanian tradisional di Indonesia mulai berkembang dan lebih dipuerhatikan lagi perkembangannya. Tanaman pangan merupakan jenis–jenis tanaman yang mengandung karbohidrat,yang merupakan sumber pangan bagi manusia,sedangkan tanaman hortikultura merupakan tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung protein dan lainnya.
            Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman,merusak tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu tanaman berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga hama mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan thorax.
Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.  Hama dari jenis serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian.  Hama dan penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga tanaman akan layu dan bahkan mati (Harianto, 2009).



Serangga (disebut pula Insecta) adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang berkaki enam. Karena itulah mereka disebut pula Hexapoda. Serangga ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan. Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi. dan ahli tentang ilmu serangga disebut entomologis (Yoxx, 2010).
 Serangga dibagi menjadi 32 ordo atau kelompok. Urutan terbesar serangga adalah kumbang (Coleoptera) dengan 125 keluarga yang berbeda dan sekitar 500.000 spesies yang berbeda. 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah (Hymenoptera)        (Yoxx, 2010).

1.2   Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum Pengenalan Serangga Hama pada Tanaman Pangan dan Hortikultura adalah untuk mengetahui jenis-jenis serangga hama yang menyerang pada tanaman pangan dan hortikultura.
Kegunaan praktikum untuk menambah wawasan praktikan sehingga dapat lebih memahami tentang serangga hama yang menyerang pada tanaman pangan dan hortikultura.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Ordo Orthoptera
        Ordo Orthoptera yaitu ordo serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya Ordo orthoptera  mengalami tahapan perkembangan yaitu telur, nimfa yaitu serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit, imago (dewasa) ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya            (Hansamunahito, 2006).
          Ciri-ciri serangga ordo orthoptera yaitu memiliki satu pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan sempit disebut tegmina. Sayap belakang tipis berupa selaput. Sayap digunakan sebagai penggerak pada waktu terbang, setelah meloncat dengan tungkai belakangnya yang lebih kuat dan besar. Hewan jantan mengerik dengan menggunakan tungkai belakangnya pada ujung sayap depan, untuk menarik betina atau mengusir saingannya. Hewan betinanya mempunyai ovipositor pendek dan dapat digunakan untuk meletakkan telur, tipe mulutnya menggigit     (Hansamunahito, 2006).
2.2   Ordo Hemiptera
  Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang. Hemiptera tidak mengalami metamorfosis sempurna. (Nonadita,2008).
Morfologi  Hemiptera yaitu Mempunyai dua pasang sayap, sepasang tebal dan sepasang lagi seperti selaput, Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.Tipe mulut menusuk dan mengisap, Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah Walang sangit (Leptorixa acuta Thumb.), Kepik hijau (Nezara viridula L) (Nonadita, 2008).
2.3   Ordo Homoptera
        Ordo Orthoptera yaitu ordo serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya Ordo orthoptera  mengalami tahapan perkembangan yaitu telur-nimfa-imago. Nimfa yaitu serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya,
dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit, imago (dewasa) ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya (Hansamunahito, 2006).
        Ciri-ciri serangga ordo homoptera yaitu Tipe mulut mengisap,mempunyai dua pasang sayap, sayap depan dan belakang sama, bentuk transparan yang digunakan untuk terbang, (Hansamunahito, 2006).

2.4   Ordo Coleoptera
         Ordo Coleoptera termasuk dalam kelompok Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur menjadi larva menjadi pupa dan pupa menjadi imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan (Hansamunahito, 2006).
          Ciri-ciri ordo coleopteran yaitu mempunyai dua pasang sayap, sayap depan keras, tebal dan mengandung zat tanduk disebut dengan elitra, sayap belakang seperti selaput. Tipe mulut pengunyah dan termasuk herbivore. Habitatnya adalah di permukaan tanah, dengan membuat lubang, selain itu juga membuat lubang pada kulit pohon, dan ada beberapa yang membuat sarang pada dedaunan, Beberapa contoh anggotanya adalah Kumbang badak  (Oryctes rhinoceros L),Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr) (Hansamunahito, 2006).
2.5   Ordo Lepidoptera
         Ordo lepidoptera termasuk dalam kelompok Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Berawal dari telur puru buah berukuran 0,1-0,2 mm, warna transparan, kuning diletakkan induknya malam hari pada kuncup bunga dan pada kulit buah muda. Kemudian menetas menjadi larva/ulat yang berwarna hijau muda dengan kepala coklat panjang 5 mm. Larva masuk ke dalam kulit buah dan tetap tinggal sampai pupa stadium ulat berlangsung selama 3 minggu. Pupa berwarna coklat berukuran 5-5,5 mm, berada dalam bunga, kulit bunga atau bagian-bagian tanaman yang tersembunyi. Stadium dewasa berupa kupu, keluar dari pupa dengan meninggalkan bekas lubang pada puru-puru di bagian tanaman tempat pupa tinggal. Hama ini diketahui banyak menyerang di Sumatera dan Jawa. Kupu-kupu puru buah berwarna abu-abukemerahan, panjang 5 mm dan meletakkan telur secara berserakan di bagian kulit buah muda pada malam hari. Telur menetas 4 hari kemudian dan ulat yang terbentuk menggerek kulit buah jeruk serta hidup di dalamnya. Kepompong berwarna merah abu-abu, panjang 4,5-5 mm. Siklus hidup dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa berlangsung selama 29 hari      (Harianto, 2009).
         Ciri-ciri ordo lepidoptera yaitu ketika fase larva memiliki tipe mulut pengunyah, sedangkan ketika imago memiliki tipe mulut penghisap, mempunyai 2 pasang sayap yang dilapisi sisik, adapun habitat dapat dijumpai di pepohonan, Beberapa jenisnya antara lain, Penggerek  batang padi kuning                         (Tryporiza incertulas Wlk), Kupu gajah (Attacus atlas L), Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura) (Harianto, 2009).
2.6   Ordo Diptera
Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur menjadi larva kemudian menjadi  kepompong setelah itu menjadi dewasa. Larva tidak berkaki apoda biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator (Retno, 2009).
          Ordo diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Pada kepala serangga ini dijumpai adanya antena dan mata facet.  Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Metamorfosisnya sempurna (holometabola). Larva tidak berkaki, biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging,bebrapa contoh serangga diptera yaitu  lalat buah (Dacus sp) lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)   lalat rumah  (Musca domestica Linn.)
(Retno, 2009).
2.7   Ordo Hymenoptera
         Ordo Coleoptera termasuk dalam kelompok Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur menjadi larva menjadi pupa dan pupa menjadi imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan (Hansamunahito, 2006).
Ordo hymenoptera seperti semut merah (Solonopsis geminata), dan wereng coklat (Nilaparvata lugens) ini kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk. Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar dari pada sayap belakang (Lena, 2009).

Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli. Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapan, Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah parasit telur penggerek tebu/padi (Trichogramma sp), tabuhan parasit ulat Artona (Apanteles artonae Rohw) (Lena, 2009).
2.8   Ordo Odonata
         Ordo orthoptera termasuk dalam kelompok hemimetabola yaitu termasuk  ordo serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya ordo orthoptera  mengalami tahapan perkembangan yaitu telur, nimfa yaitu serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit, imago (dewasa) ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya (Hansamunahito, 2006).
Ordo odonata memiliki tipe mulut pengunyah mempunyai dua pasang sayap,
terdapat sepasang mata majemuk yang besar, antenanya pendek ,umumnya ordo ini termasuk karnivora yang memakan serangga kecil dan sebagian bersifat kanibal atau suka memakan sejenis. Habitatnya adalah di dekat perairan.,beberapa contoh serangga ordo odonata yaitu capung (Isehnura cervula) (Suhardiman, 2006).




III. METODE PRAKTEK
3.1   Tempat dan Waktu
 Tempat pelaksanaan Praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman di Laboraturtium Hama dan Penyakit Tumbuhan, dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 24 November 2011, pada pukul 14.00-17.30 WITA.
3.2     Alat  dan Bahan           
Alat yang digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura  yaitu : papan bedah, jarum pentul, alkohol 70% serta alat tulis menulis.  Bahan yang digunakan adalah belalang (Valanga nigricornis), kepik hijau (Nezara Viridula), walang sangit (Leptocorixa acuta), penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera), penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata), wereng coklat           (Nilaparvata lugens), kumbang helem (Coccinela accuta), capung                (Isehnura cervula), ulat grayak pada daun kedelai (Spodoptera litura), ulat pada daun  tomat (Heliotis armigera), ulat pada daun kubis (Plutella xilostella), larva lalat buah pada cabe keriting (Dacus sp), ulat pada buah bawang (Spodoptera exiqua), kutu putih pada daun mangga (Pseodococcus sp), dan kutu putih pada daun cabe keriting (Aphys gossypii), beserta semua gejala serangnnya kecuali kumbang helem dan capung.

3.3     Cara Kerja
Pertama-tama menyiapkan bahan hama dan gejala serangannya, lalu mengambil dan mengamati morfologi spesimen tersebut satu-persatu, kemudian merendam serangga yang belum mati kedalam alkohol agar lebih muda dalam pengamatan, kemudian menggambarkan spesimen beserta gejala serangnnya pada buku gambar dan memberikan keterangan pada setiap gambar tersebut.

III.     HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1        Hasil
   Berdasarkan pengamatn pada praktikum, diperoleh hasil sebagai berikut :
Keterangan :
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Tungkai

Gambar 1.  Morfologi Belalang ( Valanga nigricornis )
Keterangan :
1. Pinggiran daun berlubang
Gambar 2. Gejala Serangan belalang ( Valanga nigricornis ) pada tanaman jagung     (Zea mayz)




Keterangan :
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Tungkai

Gambar 3. Morfologi Kepik Hijau ( Nezara viridula )
Keterangan :
1.      Biji jagung mengempis
Gambar 4. Gejala serangan Kepik Hijau ( Nezara viridula ) pada tanaman jagung
                 (Zea mayz)
Keterangan :
1. Caput
2. Thoraks
3. Abdomen
4. Tungkai

Gambar 5. Morfologi Walang Sangit (Leptocorixa acuta).




Keterangan :
1.      Bulir padi menjadi hampa
Gambar 6. Gejala serangan walang sangit (Leptocorixa acuta) pada tanaman padi
                 (Oryza satifa)

Keterangan :
1.      Abdomen
2.      Caput
3.      kaki semu
4.      kaki
Gambar 7. Morfologi Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera)
Keterangan :
1.      Ujung tongkol jagung berlubang/membusuk
Gambar 8. Gejala Serangan Penggerek Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera) pada
                 pada tanaman jagung (Zea mayz)
Keterangan :
1.      Abdomen
2.      Caput
3.      kaki semu
4.      kaki
Gambar 9. Morfologi Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)
Keterangan :
1.      Daun jagung berlubang
Gambar 10. Gejala serangan Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furcanalis) pada            tanaman jagung (Zea mayz)

Keterangan :
1.      Abdomen
2.      Caput
3.      Kaki semu
4.      Kaki
Gambar 11. Morfologi Penggerek Penggerek Batang Padi Putih                 (Scirpophaga innotata)



Keterangan :
1.      Daun padi membusuk atau menguning
Gambar 12. Gejala Serangan Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga innotata)  pada tanaman padi (Oryza satifa)

Keterangan :
1.      Caput
2.      Thorax
3.      Abdomen
4.      Tungkai

Gambar 13. Morfologi Kumbang Helem (Coccinela accuta)
Keterangan :
1.      Caput
2.      Thorax
3.      Abdomen
4.      Tungkai
Gambar 14. Morfologi Capung (Isehnura cervula)


Keterangan :
1.      Caput
2.      Tungkai
3.      Thorax
4.      Abdomen
Gambar 15. Morfologi Wereng Coklat (Nilaparvata Lugens)
Keterangan :
1.      Batang / daun padi membusuk
Keterangan :
1.       Caput
2.       Abdomen
3.       Kaki semu
4.       Kaki
Gambar 16. Gejala Serangan Wereng Coklat (Nilaparvata Lugens) pada batang padi (Zea mayz)
Gambar 17. Morfologi Ulat Grayak Pada Daun Kedelai (Spodoptera litura)
Keterangan :
1.      Daun berlubang-lubang
Gambar 18. Gejala Serangan Ulat Grayak (Spodoptera litura) Pada Daun Kedelai                  (Glycine max)

Keterangan :
1.      Caput
2.      Abdomen
 4.  Kaki semu
5.  Kakin
Gambar 19. Morfologi Ulat Pada Daun Bawang Merah (Spodoptera exiqua)
Keterangan :
1.      Daun mati/ transparan
Gambar 20. Gejala Serangan  Ulat (Spodoptera exiqua) Pada Daun Bawang Merah  (Allium ascalunioum)
Keterangan :
1.      Caput
2.      Abdomen (perut)
3.      Kaki semu
4.      Kaki
Gambar 21. Morfologi  Ulat Pada Daun Kubis (Plutella xylostella)
Keterangan :
1.      Daun kubis berlubang-lubang
Gambar 22. Gejala Serangan  Ulat (Plutella xylostella) Pada Daun Kubis       (Brassica oleracea)

Keterangan :
1.      Abdomen
2.      Caput


Gambar 23. Morfologi  Ulat Pada Tomat (Heliotis armigera)
Keterangan :
1.      Tomat membusuk
Gambar 24. Gejala Serangan  Ulat (Heliotis armigera) Pada Buah Tomat (Lycopersicon esculentur)

Keterangan :
1.      Abdomen (perut)
Gambar 25. Morfologi Larva Lalat Buah Pada Cabe keriting (Dacus sp)
Keterangan :
1.      Cabe membusuk
Gambar 26. Gejala Serangan  Larva Lalat Buah (Dacus sp) Pada Cabe keriting
Keterangan :
1.      Caput
2.      Abdomen
3.      thorax
4.      tungkai
Gambar 27. Morfologi Kutu Putih Pada Daun Mangga (Pseodococcus sp)
Keterangan :
1.      Terdapat bercak-bercak putih pada daun mangga, sehinnga daun berkeriput.
Gambar 28. Gejala Serangan  Kutu Putih (Pseodococcus sp) Pada Daun Mangga (Mangifera indica)

Keterangan :
1.      Caput
2.      Abdomen
3.      thorax
4.      Tungkai
Gambar 29. Morfologi  Kutu Putih Pada Cabe Keriting (Aphys gossypii)
Keterangan :
1.      Daun cabe mengering dan mengkerut.
Gambar 30. Gejala Serangan Kutu Putih (Aphys gossypii) Pada Cabe Keriting
4.2        Pembahasan
Dari hasil pengamatan belalang (Valanga nigricornis), dapat diketahui ciri-ciri morfologinya yaitu kepala (caput) tiga pasang tungkai, perut (abdomen), dada (thorakx) yang terbagi atas tiga bagian yaitu prothorax, mesothorakx, metathorax.  Alat mulut nimfa, imagonya menggigit dan mengunyah, Gejala serangan yang ditimbulkan oleh belalang (Valanga nigricornis), menyebabkan daun pada tanaman yang terserang berlubang.
          Belalang adalah serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Serangga ini memiliki antena yang hampir selalu lebih pendek dari tubuhnya dan juga memiliki ovipositor pendek. Suara yang ditimbulkan beberapa spesies belalang biasanya dihasilkan dengan menggosokkan femur belakangnya terhadap sayap depan atau abdomen (disebut stridulasi), atau karena kepakan sayapnya sewaktu terbang. Femur belakangnya umumnya panjang dan kuat yang cocok untuk melompat. Serangga ini umumnya bersayap, walaupun sayapnya kadang tidak dapat dipergunakan untuk terbang. (Fortunecity, 2009).
          Belalang betina umumnya berukuran lebih besar dari belalang jantan, Belalang kayu ( Valanga nigricornis ) memiliki klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia ,fhylum  arthropoda, klass  insecta ,ordo orthoptera, family acridoidea, genus valanga, spesies Valanga nigricornis (Fortunecity, 2009).
          Gejala serangan yang ditimbulkan oleh belalang (Valanga nigricornis), menyebabkan tanaman yang terserang berlubang pada bagian daun dan mengalami perubahan warna kemerah-merahan dan kecoklatan, Pengendalian yang dilakukan yaitu memilih tanaman yang baik dan mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat (Fortunecity, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan, kepik hijau (Nezara viridula) memiliki bentuk tubuh lebar seperti perisai.  Terdiri dari kepala (caput), dada (thoraks), tungkai  dan perut (abdomen).  Mengeluarkan bau yang tidak enak dan menyerang   biji jagung.
Bangsa kepik terutama kepik hijau umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet, kepik hijau          (Nezara viridula) memiliki klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia, fhylum  arthropoda, kelas insecta, ordo hemiptera, family pentatomidae, genus nezara, spesies Nezara viridula (Plantus, 2008).

   Gejala serangan yang ditimbulkan oleh kepik hijau (Nezara viridula), menyebabkan tanaman yang terserang terutama tanaman padi biji padi mengempis, pengendalian yaitu dengan cara pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah tanam (Plantus, 2008).
Dari hasil pengamatan walang sangit (Leptocorixa acuta), serangga ini mempunyai ciri morfologi yaitu memiliki tungkai, caput.andomen dan thorax.Gejala serangan yang ditimbulkan yaitu meyebabkan bulir padi membusuk atau hampa.
Walang sangit (Leptocorixa acuta) merupakan serangga yang termasuk dalam ordo hemiptera yang mempunyai sayap depan yang mengalami modifikasi sebagai hemeltron yaitu setengah bagian di daerah pangkal menebal, sedangkan sisanya berstruktur seperti selaput dan sayap belakangnya mirip selaput tipis (membrane). Tipe alat mulut, baik nimfa maupun imago, bersifat menusuk dan mengisap.antena, mata,dan tungkai depan, walang sangit (Leptocorixa acuta) memiliki klasifikasi sebagai berikut kingdom animalia, fhylum  arthropoda, kelas insecta ,ordo  hemiptera, family  alydidae ,genus  leptocorixa, Spesies  Leptocorixa acuta        (Saleh, 2008).


Gejala serangan yang ditimbulkan oleh Walang sangit (Leptocorixa acuta), menyebabkan tanaman yang terserang terutama tanaman padi buli padinya hampa atau kosong, pengendaliannya yaitu dengan cara melakukan penanaman serempak pada suatu daerah yang luas sehingga koloni walang sangit tidak terkonsentrasi di satu tempat sekaligus menghindari kerusakan yang berat. Pada awal fase generstif dianjurkan untuk menanggulangi walang sangit dengan perangkap dari tumbuhan rawa dan bangkai hewan kodok, kepiting, udang dan sebagainya. Walang sangit yang tertangkap lalu dibakar (Saleh, 2008).
Dari hasil pengamatan penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera) serangga ini mempunyai ciri morfologi memilki caput , kaki depan berjumlah 3 pasang dan kaki belakang atau kaki semu berjumlah 4 pasang,gejala serangannya membuat tongkol jagung membusuk/berlubanag.
Penggerek tongkol jagung merupakan serangga yang termasuk dalam ordo lepidoptera yang pada saat larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yangperkembangannya melalui stadia, telur menjadi larva kemudian menjadi kepompong setelah itu menjadi dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.Penggerek tongkol jagung memilki klasifikasi sebagai berikut kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo lepidoptera, family pyralidae, genus Helicoverpa, spesies Helicoverpa armigera (Pracaya, 2007).
Gejala serangan hama tersebut menyebabkan tongkol jagung berlubang dan membusuk, Pengendalian Pembakaran tanamaman. Pengolahan tanah yang intensif. Pengendalian fisik atau mekanis, mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya (Pracaya, 2007).
Dari hasil pengamatan penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) serangga ini mempunyai ciri morfologi yang hampir sama dengan penggerek tongkol jagung memilki caput , kaki depan berjumlah 3 pasang dan kaki belakang atau kaki semu berjumlah 4 pasang bercorak kehitam hitaman,gejala serangannya membuat daun jagung berlubang-lubang.
 Penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis)  merupakan serangga yang termasuk dalam ordo lepidoptera yang pada saat larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna. Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yangperkembangannya melalui stadia : telur menjadi larvakemudian menjadi kepompong setelah itu menjadi dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.Penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) memilki klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo lepidoptera, family pyralidae, genus Ostrinia, spesies Ostrinia furnacalis ( Pracaya, 2007).


Gejala serangan hama tersebut menyebabkan lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak, pengendalian Pembakaran tanama- Pengolahan tanah yang intense . Pengendalian fisik atau mekanis, mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya (Ikbal, 2007).
Dari hasil pengamatan penggerek batang padi putih (scirpophaga innotata) serangga ini mempunyai ciri morfologi yang hampir sama dengan penggerek tongkol jagung memilki caput , kaki depan berjumlah 3 pasang dan kaki belakang atau kaki semu berjumlah 4 pasang bercorak kehitam hitaman, pada saat imago hama ini berubah menjadi kupu-kupu putih,gejala serangannya membuat batang padi membusuk.
Penggerek batang batang padi putih (scirpophaga innotata) merupakan serangga yang termasuk dalam ordo lepidoptera yang pada saat larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yangperkembangannya melalui stadia, telur menjadi larvakemudian menjadi kepompong setelah itu menjadi dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta. Penggerek batang padi putih (scirpophaga innotata) memilki klasifikasi sebagai berikut , kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo lepidoptera, family crambidae, genus Scirpophaga spesies Scirpophaga innotata (Pracaya, 2007).
Gejala serangan hama tersebut menyebabkan batang padi menguning atau membusuk. Cara pengendalian  yang telah pernah dilakukan adalah pengaturan waktu tanam, penggunaan varietas tahan, pengendalian secara mekanik dengan memotong batang sangat rendah, pengendalian secara biologi, kimiawi, dan semi kimiawi (Pracaya, 2007).
Dari hasil pengamatan morfologi wereng coklat (Nilaparvata lugens) memiliki bentuk tubuh panjang dengan warna kuning kecokelatan.  Terdiri dari kepala (caput), dada (thoraks) kaki, sepasang sayap dan perut (abdomen). Gejala serangannya yaitu membuat batang padi membusuk dan menguning.
      Wereng coklat (scirpophaga innotata) merupakan serangga dalam kelompok ordo homoptera yang mempunyai bentuk hampir sama dengan ordo hemiptera Sayap depan anggota ordo homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera, Wereng coklat (Nilaparvata lugens)  memilki klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo lepidoptera, family delphacidae, genus nilaparvta, spesies Nilaparvata lugens (Siregar,  2003).
     Wereng cokelat (scirpophaga innotata) menghisap bagian pangkal batang tanaman padi, sehingga padi akan layu dan mati, Pengendalian wereng coklat telah dilakukan sejak 1970 dengan berbagai cara. Usaha-usaha pengendalian ini meliputi penggunaan varietas tahan, perubahan cara bercocok tanam, dan penggunaan pestisida (Siregar,  2006).
   Berdasarkan hasil pengamatan kumbang helem (Coccinela accuta) serangga ini mempunyai ciri morfologi yaitu memiliki sepasang antena, tungkai depan, tungkai tengah dan tungkai belakang,thorax dan abdomen, tipe mulut pengunyah. Serangga ini termasuk dalam golongan predator karena memangsa/ memakan serangga lain, sehingga tidak terdapat gejala serangan pada tumbuhan.
Kumbang helem (Coccinela accuta) memiliki anggota-anggotan antara lain ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra.Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.Kumbang helem (Coccinela accuta) memilki klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo coleoptera, family  cocynelidae, genus coccinela spesies Coccinela accuta (Pracaya, 2007).
   Berdasarkan hasil pengamatan capung (Isehnura cervula) serangga ini mempunyai ciri morfologi yaitu memiliki caput, sepasang antena, tungkai depan, tungkai tengah dan tungkai belakang,thorax dan abdomen, tipe mulut pengunyah. Serangga ini termasuk dalam golongan predator karena memangsa/memakan serangga lain atau serangga kecil, sehingga tidak terdapat gejala serangan pada tumbuhan.
Capung (Isehnura cervula) merupakan serannga dalam kelompok ordo odonata yang memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama.Capung (Libelulla forensic) memilki klasifikasi sebagai berikut : Kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta, ordo odonata, family  epipprocta, genus Isehnula spesies Isehnula cervul (Pracaya, 2007).
Berdasarkan hasil pengamatan  pada ulat tentara  (Spodoptera litura) serangga  ini memiliki ciri-ciri caput, mata, abdomen, kaki semu, warna hijau kecoklatan,kaki toraksial.Gejala serangannya membuat dau kedelai berlubang-lubang.
     Larva ulat grayak (Spodoptera litura)  mempunyai warna yang bervariasi, memiliki kalung (bulan sabit) berwarna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh .Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, dan hidup berkelompok. Pada siang hari, larva bersembunyi di dalam tanah atau tempat yang lembap dan menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas cahaya matahari yang rendah. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.Ulat muda menyerang daun hingga tertinggal epidermis atas dan tulang-tulang daun saja. Ulat tua  merusak pertulangan daun hingga tampak lobang-lobang bekas gigitan ulat pada daun.Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah Agrothis ipsilon, namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu pada ulat grayak terdapat tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung gelap memanjang. Ulat tentara/grayak memiliki klasifikasi sebagai berikut, Kingdom Animalia, fylum arthropoda, kelas insecta , ordo lepidoptera, family noctuidae, Genus Spodoptera, Spesies Spodoptera litura (Siregar, 2003).
 Gejala serangan yang nampak yakni terdapat bercak-bercak pada daun, dan dapat membuat daun menjadi berlibang .Pengendalian dengan cara Mekanis: telur yang ada diambil bersama dengan daun tempat menempelnyaBiologis bacillus thuringiensis, kimia: insektisida sanitasi  (Pracaya, 2007).
Dari hasil pengamatan ulat daun bawang (Spodoptera exigua),serangga ini memiliki berwarna hijau dan terdapat garis-garis hitam di bagian tubuh, terdapat kaki semu serta kaki toraksial. Warna ulat ini mula-mula berwarna hijau dan menjadi coklat tua apabila sudah dewasa dengan garis-garis putih di bagian badan.Gejala serangan ulat ini menyebabkan daun bawang menjdi trnsparan dan membusuk.
Larva ulat bawang merah (Spodoptera exigua), atau ulat muda berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya.  Ulat tua mempunyai beberapa variasi warna, yaitu hijau, coklat muda dan hitam kecoklatan.  Ulat yang hidup di dataran tinggi umumnya berwarna coklat.Stadium ulat terdiri dari 5 instar.  Instar pertama panjangnya sekitar 1,2 – 1,5 mm, instar kedua sampai instar terakhir antara 1,5 – 19 mm. Ulat daun bawang merah (Spodoptera exiqua) memiliki klasifikasi sebagai berikut kingdom animalia, fylum arthropoda, kelas insecta , ordo lepidoptera, family noctuidae, genus spodoptera, spesies Spodoptera exiqua (Siregar, 2006).
 Gejala serangannya pada bagian tanaman yang terserang terutama daunnya, baik daun pada tanaman yang masih muda ataupun yang sudah tua.Setelah menetas dari telur, ulat muda segera melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang, akibatnya ujung daun nampak berlubang/ terpotong.  Ulat akan menggerek permukaan bagian dalam daun, sedang epidermis luar ditinggalkannya.  Akibat serangan tersebut daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akhirnya daun menjadi terkulaiPengendaliannya yaitu dengan tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh (Kartasapoetra, 2008).
     Dari hasil pengamatan ulat daun kubis (Plutella xilostella), serangga ini terdiri dari caput, abdomen, ulat ini berwarna hijau atau coklat, bentuknya kecil dan pendek.Gejala serangannya membuat daun kubis menjadi berlubang-lubang.
  Larva ulat daun kubis (Plutella xylostella) memiliki tipe alat mulut penggigit, umumnya mudah dibedakan dengan larva serangga hama lainnya karena larva ini tidak mempunyai garis membujur pada tubuhnya. Larva terdiri atas empat instar. Ukuran larva instar keempat 10-12 mm. Kepala berwarna kuning muda terdapat bintik-bintik gelap. Tubuhnya berwarna hijau muda terdapat bulu hitam tipis. Apabila disentuh larva bereaksi ganas, menjatuhkan diri dan membentuk benang sutera. Pupa terletak pada daun atau batang, seperti jalinan benang berwarna putih sehingga nampak seperti kumparan benang. Ketika larva (ulat) muda menetas dari telur, maka larva akan mulai untuk menyerang tanaman dengan cara mengorok daun kubis selama 2-3 hari. Selanjutnya memakan jaringan bagian permukaan bawah daun atau permukaan atas daun dan meninggalkan lapisan tipis/transparan sehingga daun seperti berjendela dan akhirnya sobek serta membentuk lubang-lubang kecil. Apabila tingkat populasi larva tinggi, maka seluruh daun akandimakan dan hanya tulang daun yang ditinggalkan Ulat daun kubis (Plutella xilostella) mempunyai klasifikasi sebagai berikut, kingdom animalia,  fhylum  arthropoda, kelas Insekt ,ordo lepidoptera, family plutellidae, genus  plutella, spesies  Plutella xylostella           (Sari, 2009).
Gejala serangan dari ulat daun  kubis (Plutella xilostella)  yaitu pada tanaman kubis adalah lubang pada tengah daun. Pengendaliannya yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan identifikasi senyawa aktif insektisida dari daun secang dan menentukan formulasi sediaan insektisida nabati yang efektif dalam pengendalian ulat kubis (Sulistyo, 2009).
     Dari hasil pengamatan larva lalat buah (Dacus sp) serangga ini memiliki abdomen saja,tubuhnya berwarna putih,dan meloncat-loncat.Gejala serangan larva lalat buah membuat cabe keriting membusuk.
Larva lalat buah (Dacus sp), terdiri atas 3 instar berbentuk belatung/bulat panjang dengan salah satu ujungnya (kepala) runcing dengan 2 bintik hitam yang jelas merupakan alat kait mulut, mempunyai 3 ruas torak, 8 ruas abdomen, berwarna putih susu atau putih keruh atau putih kekuningan, larva menetas di dalam buah cabai. Buah yang terserang ditandai oleh lubang titik hitam pada bagian pangkalnya, tempat serangga dewasa memasukkan telur ( Pracaya,2007).


Bila buah cabai terbuka, di dalamnya akan terlihat adanya belatung yang merupakan larva dari lalat buah. Larva ini berwarna putih kekuningan dan dapat melenting dari buah masuk ke dalam tanah melalui lubang kecil yang dibuatnya, didalam tanah larva kemudian menjadi pupa. Setelah pupa berumur 4-10 hari, maka pupaberubah menjadi serangga/lalat buah dewasa. Larva lalat buah                    (Dacus sp)memiliki klasifikasi sebagai berikut Kingdom animalia,  fhylum  arthropoda, kelas Insekt ,ordo lepidoptera, family Tephritidae, genus  dacus, spesies  Dacus sp ( Pracaya,2007).
Gejala serangan dari larva lalat buah (Dacus sp) yaitu busuk pada bagian cabe kriting,berwarna hitam dan lubang dan kemudian membusuk setelah itu rontok dengan sendirinya. Pengedaliannya yaitu dengan pembungkusan buah, pengasapan, sanitasi kebun, dengan perangkap/atraktan, dan penggunaan pestisida kimia        (Lena, 2009).
   Dari hasil pengamatan ulat pada buah tomat (Helicoverpa armigera) dapat dilihat morfologi ulatnya kecil dan berwarna coklat terdapat caput yang terdiri dari mata dan mulut,thorax dan abdomen. Gejala serangan Ulat pada buah tomat  sering mendatangkan kerusakan cukup berat pada buah tomat.
Larva (ulat) Helicoverpa armigera merupakan jenis ulat dengan tipe mulut penggigit, larva ini disebut juga Heliothis armigera. Larva (ulat) kecil mempunyai warna yang menarik dan berubah sesuai dengan pertumbuhannya. Pertama-tama berwarna putih kekuningan dengan kepala berwarna hitam, kemudian hijau pucat, kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan hitam kemerah-merahan. Panjang ulat dapat mencapai 3,45 cm. Kepompong dibentuk di dalam tanah, lama masa kepompong 12-14 hari. Pada buah tomat, ulat ini masuk kedalam buah dengan cara melubangi buah, setelah itu memakan bagian dalam buah. Kerusakan yang ditimbulkannya pada buah tomat cukup berat, yaitu buah yang terserang akan rusak, lama-lama rontok dan menjadi busuk basah setelah penyakit sekunder ikut masuk dalam buah. Selain pada tomat, ulat Helicoverpa armigera dapat juga
menyerang cantel, tembakau, kapas, jagung dan kentang. ulat pada buah tomat (Helicoverpa armigera
) memiliki klasifikasi sebagai berikut Kingdom animalia,  fhylum  arthropoda, kelas Insekt ,ordo lepidoptera, family Tephritidae, genus  helicoverpa, spesies  Helicoverpa armigera (Pracaya,2007).
Serangan ulat buah tomat (Helicoverpa armigera) yaitu membuat tomat menjadi busuk dan berwarna coklat. Pengendaliannya yaitu dengan penyemprotan dengan insektisida seperti Azodrin 15 WSC, Nogos 50 EC, Diazinon, Cymbush, Bayrusil. Perlakuan insektisida dapat dilakukan pada saat ulat belum masuk ke dalam buah tomat (Endro, 2008).
     Dari hasil pengamatan kutu putih pada daun mangga (Pseudoccus sp.) terdiri dari kepala (caput), ,abdomen,thorax dan tungkai, hewan ini termasuk dalam ordo homoptera yang umumnya memiliki 2 pasang sayap dan pada bagian kepala dijumpai adanya antenna dan mata. Ciri morfologi kutu putih pada daun mangga                    (Pseudoccus sp.)  seluruh tubuh tertutup oleh lilin termasuk tonjolan pendek yang terdapat pada tubuhnya.gejala serangannya dapat menimbulkan kerusakan secara langsung dengan mengisap cairan sel daun tanaman inang sehingga menyebabkan perubahan bentuk yang tidak normal, daun mengeriting, pucuk apikal tumbuh bengkok dan jarak antar ruas daun memendek.
  Kutu putih (Pseudococcus sp). memiliki tubuh berbentuk oval, warna badannya kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, lunak dengan segmen yang jelas, panjang 3–4 mm dan lebar 1,5–2 mm, seluruh tubuhnya dilindungi oleh lapisan tebal seperti lilin atau tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih. Kutu putih pada daun mangga (Pseudoccus sp) memiliki klasifikasi sebagai berikut,kKingdom animalia,  fhylum  arthropoda, kelas hexapoda ,ordo homoptera, family Pseudococcidae, genus  pseudoccus, spesies  Pseudoccus sp ( Pracaya,2007).
      Kutu putih pada daun mangga (Pseudococcus sp) merupakan jenis hama yang gejala serangannya yaitu terdapat putih-putih pada daun mangga ,pertumbuhan tidak normal dan daun meggeriting. Pengendaliannya yaitu dengan mengambil daun yang terserang hama kutu putih lalu daun-daun tersebut dibakar, bias juga dengan cara menyeprotkan dengan pestisida (Pracaya, 2007).
     Dari hasil pengamatan kutu putih pada daun cabai keriting                       (Aphys gossypii) yaitu dapat dilihat kutu tersebut memiliki caput, abdomen,thorax tungkai, seluruh tubuh tertutup oleh lilin termasuk tonjolan pendek yang terdapat pada tubuhnya. Gejala serangananya membuat daun cabai menguning dan menggeriting.
  Kutu putih pada daun cabai (Aphys gossypii) mempunyai bentuk yang sama dengan kutu pada daun mangga,memiliki tubuh berbentuk oval, warna badannya kuning kecoklatan, kuning muda atau kuning tua, lunak dengan segmen yang jelas, panjang 3–4 mm dan lebar 1,5–2 mm, seluruh tubuhnya dilindungi oleh lapisan tebal seperti lilin atau tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih. Kutu putih pada daun cabai keriting (Capsicum annum) memiliki klasifikasi sebagai berikut ,kingdom animalia,  fhylum  arthropoda, kelas hexapoda ,ordo homoptera, family planococcus, genus  aphys, spesies        Aphys gossypii ( Pracaya,2007).
      Kutu putih daun cabai (Aphys gossypii) merupakan jenis hama yang gejala serangannya yaitu terdapat putih-putih pada daun mangga ,pertumbuhan tidak normal dan daun meggeriting. Pengendaliannya yaitu dengan mengambil daun yang terserang hama kutu putih lalu daun-daun tersebut dibakar, bias juga dengan cara menyeprotkan dengan pestisida (Pracaya, 2007).














V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1   Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka  dapat disimpulkan bahwa :
1.        Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.  Hama dari jenis serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian.
2.        Kelompok serangga yang kami amati terbagi dalam 8 ordo, yaitu ordo, Orthoptera, Hemiptera, Homoptera, Coleoptera, ,Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera dan Odonata.Secara umum bagian tubuh serangga terbagi atas tiga bagian utama yaitu caput, thorax, dan abdomen.  Pada bagian thorax terbagi lagi menjadi prothorax, mesothorax, dan metathorax.
3.        Cara pengendalian hama secara umum yaitu dengan cara Pengendalian Hama secara Terpadu, cara ini adalah tidak bermaksud membasmi seluruh hama, akan tetapi hanya mengurangi jumlah hama dalam taraf toleransi.

5.2   Saran
            Dalam melakukan praktikum dibutuhkan keseriusan untuk memahami apa yang telah kita teliti, dari itu praktikum harus serius dalam melaksanakan praktikum agar hasil yang kita peroleh mendapatkan hasil dan tujuan yang dimaksud.

DAFTAR PUSTAKA
Fatimah, 2008. Hama Tanaman dan Teknik Pengendalian.  Kanisius, Jogjakarta.
Hansamunahito, 2006, Hama Tanaman Pangan dan Perkebunan. Bumi Aksara, Jakarta.
 Harianto, 2009. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember.
Lena, 2009. Pengantar Perlindungan Tanaman. http://l3na.blogspot.com. Diakses pada tanggal 12 Desember 2009.
Nonadita, 2007. Ordo-Ordo Serangga. PT Bima Aksara, Jakarta.
Pracaya, 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.
Retno, 2009. Kutu Putih. http://angga1503.wordpress.com. Diakses pada tanggal 12 Desember 2009
Siregar, 2006. Integrated Agricultural Farming System. http://salehp3t.blogspot.com.  Diakses pada tanggal 12 Desember 2009.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar